Kamis, 26 Mei 2011

Ozon Kutub Utara Hampir Berlubang


Ozon terus menipis, bahkan nyaris berlubang di Kutub Utara. Penurunan temperatur stratosfer yang jadi penyebab.

Penyebab terbentuknya lubang ozon ada tiga, menurut Profesor Ross Salawitch, ahli kimia dan biokimia dari University of Maryland, yang mempelajari kandungan zat kimia di atmosfer. Ketiganya adalah sinar matahari, halogen, dan temperatur rendah.


Saat temperatur turun melebihi ambang batas, awan terbentuk di stratosfer. Halogen, khususnya polutan, seperti klorin dan brom, berubah menjadi senyawa kimia yang bereaksi dengan cepat di ozon. "Semua berubah drastis," kata Salawitch.

Tahun ini sistem angin kutub yang dikenal dengan nama "pusaran kutub" sangat tenang dan stabil. Hal itu berperan dalam menurunkan temperatur di daerah Kutub Utara. Penurunan drastis ini, jika terjadi di Kutub Selatan, dipastikan bisa membentuk lubang ozon karena lapisan ozon di sana lebih tipis daripada di Kutub Utara.

Saat ini pusaran angin sudah menghilang dan udara dari luar Kutub Utara yang lebih hangat bisa masuk dan memperbaiki lapisan ozon.

Jika ozon berlubang, semakin banyak radiasi ultraviolet yang mencapai bumi yang bisa memicu penyakit kulit. Dengan lapisan ozon yang semakin tipis saja orang berkulit sensitif akan semakin mudah terbakar sinar matahari.

Sumber : Kompas

Energi Gelap Bikin Semesta Mengembang



Survei selama lima tahun pada 200.000 galaksi membuktikan bahwa energi gelap terbukti membuat semesta mengembang dengan percepatan tertentu. Penemuan itu didasarkan pada observasi menggunakan wahana Galaxy Evolution Explorer NASA dan Anglo Australian Telescope di Siding Spring Mountain, Australia.

Awalnya, astronom menggunakan peta galaksi 3D hasil pencitraan Galaxy Evolution Explorer. Selanjutnya, dengan Anglo Australian Telescope, astronom mencari pola jarak antargalaksi, jarak galaksi dengan Bumi, dan kecepatan galaksi menjauh dari Bumi. Dengan peta galaksi, astronom juga mempelajari bagaimana kluster galaksi berkembang.

Berdasarkan analisis, jarak antargalaksi pada permulaan semesta sekitar 500 juta tahun cahaya. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa jarak antargalaksi tersebut semakin menjauh. Gravitasi pada kluster galaksi menarik galaksi-galaksi baru, tetapi energi gelap seolah justru mendorongnya keluar.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa energi gelap adalah konstan secara kosmologis. Chris Blake, pimpinan investigasi dari Swinburne University of Technology, Melbourne, mengatakan, "Aksi energi gelap seperti ketika Anda melempar bola ke udara dan menjaganya tetap bergerak semakin cepat ke atas."

Penemuan ini mendukung teori bahwa energi gelap bertindak sebagai gaya konstan yang secara tetap memengaruhi semesta, membuatnya mengembang. Sekaligus, hasil ini membantah teori alternatif bahwa penyebab mengembangnya semesta adalah gravitasi yang bertindak sebagai gaya dorong ketika jarak antarbenda jauh.

Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Royal Astronomy Society. Energi gelap sendiri adalah bentuk energi yang mendominasi semesta, terdiri atas sekitar 74 persen. Materi gelap yang sampai saat ini masih misterius berjumlah 22 persen di semesta. Sementara materi "normal" yang kita kenal, seperti yang menyusun makhluk hidup, hanya 4 persen.

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/05/24/16015655/Energi.Gelap.Bikin.Semesta.Mengembang
http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-1389206/Dark-energy-DOES-exist-increasingly-driving-universe-apart-scientists-claim.html

Rabu, 18 November 2009

Natalitas & Mortalitas

Kelahiran (Natalitas)
Kelahiran merupakan suatu faktor yang mempengaruhi jumlah penduduk. Tingkat kelahiran tergatung pada banyaknya jumlah pasangan di usia subur yang tercermin dalam jumlah bayi yang dilahirkan.


Faktor-faktor Pronatalitas
1.Kawin usia muda.
2.Tingkat kesehatan.
3.Anggapan banyak anak banyak rejeki.

Faktor-faktor Antinatalitas
1.Pembatasan umur menikah.
2.Program keluarga berencana.
3.Pembatasan tunjangan anak.
4.Anak merupakan beban.

Pengukuran kelahiran dapat diukur melalui bebarapa cara:
1.Angka Kelahiran Kasar




Keterangan :
B = banyaknya anank lahir (birth) pada tahun tertentu
P = Jumlah penduduk (population) pada peretangahan tahun
k = Konstanta (1.000)

Tingkat kelahiran kasar dapat dibedakan 3, yaitu tinggi, sedang, dan rendah :
1.Tinggi, jika angka kelahiran kasar lebih dari 30 setiap 1.000 jiwa.
2.Sedang, jika angka kelahiran kasar suatu daerah antara 20 – 30 setiap 1.000 jiwa.
3.Rendah, jika angka kelahiran kasar suatu daerah kurang dari 20 setiap 1.000 jiwa.

2.Angka Kelahiran Menurut Umur




Keterangan :
Bx = Jumlah anak lahir dari kelompok wanita umur x
Px = Jumlah wanita pada kelompok umur x
k = Konstanta (1.000)

Kematian (Mortalitas)
1.Kematian bersifat mengurangi penduduk.
2.Tingkat kematian kelompok penduduk tertentu berbeda dengan kelompok penduduk yang lain.
3.Di negara maju tingkat kematian lebih rendah dibandingkan negara berkembang.

Faktor-faktor Promortalitas
1.Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesahatan.
2.Kurangnya fasilitas kesahatan masyarakat yang memadai.
3.Sering terjadi kecelakaan lalu lintas.
4.Adanya bencana alam yang memakan korban jiwa.
5.Terjadi peperangan.

Faktor-faktor Antimortalitas
1.Fasilitas kesehatan yang memadai.
2.Lingkungan yang bersih dan teratur.
3.Larangan bunuh diri.
4.Tingkat kesehatan masyarakat yang tinggi.

Pengukuran kematian dapat diukur melalui beberapa cara :
1.Angka Kematian Kasar




Keterangan :
D = Jumlah kematian
P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun
k = Konstanta (1.000)

2. Angka Kematian Menurut Umur




Keterangan :
Dx = Jumlah kematian dalam kelompok umur x
Px = Jumlah penduduk pada kelompok umur x
k = Konstanta (1.000)